Selasa, 28 Oktober 2008

BUKU REFERENSI

Sejak kecil saya sudah dibiasakan oleh ortu di rumah dengan beberapa jenis teks bergambar, buku cerita, majalah (yang ini karena ditunjuk agency utk membantu distribusi ke pelanggan). Bekal itu kemudian berkembang untuk membaca dan menjadi anggota aktif beberapa perpustakaan yang ada di sekitar kotaku, Yogyakarta. Tradisi setiap pagi melihat anak sekolah bersepeda atau jalan kaki menjadi motivasi tersendiri bahwa mereka membawa buku-buku dengan atau tanpa tas. Selain kunjungan ke toko buku resmi untuk melihat display buku baru, best seller dan tentu saja cuci mata (naluri laki-laki), tak terelakkan ada kios-kios buku loak/bekas dengan harga nego yang menjadi favorit kunjungan berbagai lapisan masyarakat penggemar buku. Begitulah saya menyebutnya Wisata Buku.



Di sekolah menengah, tugas-tugas harus mencantumkan sumber buku/referensi sebagai kelengkapan penilaian ilmiah seorang guru. Jadilah kelompok belajar dengan agenda rutin tukar-pinjam buku yang dimiliki anggota. Teman-teman cewek lebih banyak dikerjai karena rata-rata ortunya lebih kaya. Motivasi membaca buku disertai kompetisi merebut simpati sesuai perkembangan usia. Gaya curhat yang malu-malu remaja terbungkus lewat selipan kertas di buku yang dipinjam saat kembali. Ada macam-macam reaksi yang diterima: terbuka, jujur, senang, tapi juga caci maki. Begitupun saya menyebutnya Cinta Buku.



Sampai di perguruan tinggi, membaca buku di ruang baca perpustakaan kampus adalah kegiatan wajib, jika tak mau ketinggalan bahan kuliah. Jaminan menjadi anggota perustakaan kampus pun harus menyerahkan ijazah asli SMA segala. Justru di situ mahasiswa yang tekun membaca berkesempatan mengeksplorasi minat bacanya pada gudang ilmu yang tersedia -- itu kalau kampus menempatkan perpustakaan sebagai pusat belajar mandiri -- Dan pada giliran semester akhir kuliah, mahasiswa diberi kesempatan langsung masuk ruang penyimpanan buku dan mengambil sendiri buku yang dicarinya. Yang berminat mencari pengalaman kerja pustakawan dipersilakan magang langsung melayani mahasiswa lain atas pengawasan koordinator tenaga pustakawan. Yang lebih seru, jika dosen tertentu mengadakan penelitian, mahasiswa diperbolehkan menjadi anggota tim peneliti. Bahkan ikut touring of duty ke sekolah-sekolah atau kepanitiaan seminar-seminar sebagai tenaga sekretariat part timer. Masa ini saya sebut Dialog Buku. Saya sangat beruntung dibesarkan dalam tradisi buku seperti itu. Meski kesejahteraan ortu termasuk pensiunan guru SD golongan terakhir IId PNS, tersendat-sendat dalam pembiayaan kuliah, pengenalan ilmu lewat buku diprioritaskan karena tak ternilai harganya. Beruntunglah saya dengan kegemaran itu mengantarkan peluang saya memperoleh beasiswa yang tidak begitu mengikat demi kelangsungan kuliah saya. Suntuk dengan keseharian tersebut, berakibat menunda pekerjaan utama skripsi. Apalagi ada sekolah yang meminta ikut mengajar di situ, bertambahlah uang saku saya untuk beli buku. Saya tidak sadar bahwa takkan pernah cukup uang untuk selalu beli buku karena hampir tiap hari ada buku baru. Bedanya dengan mahasiswa Kutu Buku yang jarang kelihatan aktivitas humaniora lainnya adalah kami ikut turun ke jalan alias demo, termasuk gaya hidup menggelandang di Malioboro di waktu malam.



Tibalah saat harus berakhir dalam wisuda sarjana. Dengan ujian skripsi yang direvisi dewan penguji, saya dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, tidak cumlaude, maklum aja kalah bersaing secara sehat: inteligensi, motivasi, figthing spirit, dan dana. Toga sarjana sewa di rektorat toh hanya sekali pakai. Ijazah dan Akta IV diterimakan untuk bekal kerja. Selamat tinggal kampus pendidikanku (IKIP) sekarang universitas. Saya tinggalkan kota kelahiran, sebuah kampung di pinggir sungai Winongo, saya tinggalkan kenangan hidup bersama tetangga, teman bermain, teman sekolahku dulu dan kisah remaja masa lalu. Restu ortu di rumah mengantar kepergianku ke medan kerja Pulau Bangka, jadi guru muda di sebuah sekolah swasta.
(Bersambung)