Selama kurikulum pengajaran di sekolah belum mantap, perencanaan dan pengembangan materi pembelajaran mengalami tarik ulur berkepanjangan. Sistem konvensional dengan buku wajib terkesan siapa pemegang jabatan departemen dan pemenang tender penerbitannya.
Pelaksana di lapangan sering dibuat kalang kabut ketika harus mengikuti petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang kadang terlambat disampaikan atau diterima di daerah. Sosialisasi kebijakan sering juga ditanggapi secara berlebihan karena perbedaan status lembaga dan tingkat kesejahteraan.
Walaupun cukup sumber daya manusia yang terdidik, kadang tidak siap menghadapi kompleksitas persoalan masyarakat pengguna jasa pendidikan yang diidealisasikan. Bakat alam tidak digali sebagai potensi awal yang dihargai semestinya. Tradisi lisan tetap harus menjadi prioritas proses awal menuju tradisi tulis yang terus-menerus dikembangkan.
Orang yang gagap aksara tulis masih punya potensi lisan yang diterima dalam lingkup keluarga dan pergaulan. Orang yang gagap informasi masih punya informasi dasar yang sangat potensial dikembangkan. Membuka cakrawala kegagapan informasi itulah kunci proses pendampingan latihan berjenjang ke arah keyakinan diri untuk tampil (performance) dalam bingkai yang lebih tertata bernama menulis kreatif: produktif dan berkualitas.
Senin, 24 November 2008
Langganan:
Komentar (Atom)
