Senin, 24 November 2008

PROSES MENULIS KREATIF

Selama kurikulum pengajaran di sekolah belum mantap, perencanaan dan pengembangan materi pembelajaran mengalami tarik ulur berkepanjangan. Sistem konvensional dengan buku wajib terkesan siapa pemegang jabatan departemen dan pemenang tender penerbitannya.

Pelaksana di lapangan sering dibuat kalang kabut ketika harus mengikuti petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang kadang terlambat disampaikan atau diterima di daerah. Sosialisasi kebijakan sering juga ditanggapi secara berlebihan karena perbedaan status lembaga dan tingkat kesejahteraan.

Walaupun cukup sumber daya manusia yang terdidik, kadang tidak siap menghadapi kompleksitas persoalan masyarakat pengguna jasa pendidikan yang diidealisasikan. Bakat alam tidak digali sebagai potensi awal yang dihargai semestinya. Tradisi lisan tetap harus menjadi prioritas proses awal menuju tradisi tulis yang terus-menerus dikembangkan.

Orang yang gagap aksara tulis masih punya potensi lisan yang diterima dalam lingkup keluarga dan pergaulan. Orang yang gagap informasi masih punya informasi dasar yang sangat potensial dikembangkan. Membuka cakrawala kegagapan informasi itulah kunci proses pendampingan latihan berjenjang ke arah keyakinan diri untuk tampil (performance) dalam bingkai yang lebih tertata bernama menulis kreatif: produktif dan berkualitas.

Selasa, 28 Oktober 2008

BUKU REFERENSI

Sejak kecil saya sudah dibiasakan oleh ortu di rumah dengan beberapa jenis teks bergambar, buku cerita, majalah (yang ini karena ditunjuk agency utk membantu distribusi ke pelanggan). Bekal itu kemudian berkembang untuk membaca dan menjadi anggota aktif beberapa perpustakaan yang ada di sekitar kotaku, Yogyakarta. Tradisi setiap pagi melihat anak sekolah bersepeda atau jalan kaki menjadi motivasi tersendiri bahwa mereka membawa buku-buku dengan atau tanpa tas. Selain kunjungan ke toko buku resmi untuk melihat display buku baru, best seller dan tentu saja cuci mata (naluri laki-laki), tak terelakkan ada kios-kios buku loak/bekas dengan harga nego yang menjadi favorit kunjungan berbagai lapisan masyarakat penggemar buku. Begitulah saya menyebutnya Wisata Buku.



Di sekolah menengah, tugas-tugas harus mencantumkan sumber buku/referensi sebagai kelengkapan penilaian ilmiah seorang guru. Jadilah kelompok belajar dengan agenda rutin tukar-pinjam buku yang dimiliki anggota. Teman-teman cewek lebih banyak dikerjai karena rata-rata ortunya lebih kaya. Motivasi membaca buku disertai kompetisi merebut simpati sesuai perkembangan usia. Gaya curhat yang malu-malu remaja terbungkus lewat selipan kertas di buku yang dipinjam saat kembali. Ada macam-macam reaksi yang diterima: terbuka, jujur, senang, tapi juga caci maki. Begitupun saya menyebutnya Cinta Buku.



Sampai di perguruan tinggi, membaca buku di ruang baca perpustakaan kampus adalah kegiatan wajib, jika tak mau ketinggalan bahan kuliah. Jaminan menjadi anggota perustakaan kampus pun harus menyerahkan ijazah asli SMA segala. Justru di situ mahasiswa yang tekun membaca berkesempatan mengeksplorasi minat bacanya pada gudang ilmu yang tersedia -- itu kalau kampus menempatkan perpustakaan sebagai pusat belajar mandiri -- Dan pada giliran semester akhir kuliah, mahasiswa diberi kesempatan langsung masuk ruang penyimpanan buku dan mengambil sendiri buku yang dicarinya. Yang berminat mencari pengalaman kerja pustakawan dipersilakan magang langsung melayani mahasiswa lain atas pengawasan koordinator tenaga pustakawan. Yang lebih seru, jika dosen tertentu mengadakan penelitian, mahasiswa diperbolehkan menjadi anggota tim peneliti. Bahkan ikut touring of duty ke sekolah-sekolah atau kepanitiaan seminar-seminar sebagai tenaga sekretariat part timer. Masa ini saya sebut Dialog Buku. Saya sangat beruntung dibesarkan dalam tradisi buku seperti itu. Meski kesejahteraan ortu termasuk pensiunan guru SD golongan terakhir IId PNS, tersendat-sendat dalam pembiayaan kuliah, pengenalan ilmu lewat buku diprioritaskan karena tak ternilai harganya. Beruntunglah saya dengan kegemaran itu mengantarkan peluang saya memperoleh beasiswa yang tidak begitu mengikat demi kelangsungan kuliah saya. Suntuk dengan keseharian tersebut, berakibat menunda pekerjaan utama skripsi. Apalagi ada sekolah yang meminta ikut mengajar di situ, bertambahlah uang saku saya untuk beli buku. Saya tidak sadar bahwa takkan pernah cukup uang untuk selalu beli buku karena hampir tiap hari ada buku baru. Bedanya dengan mahasiswa Kutu Buku yang jarang kelihatan aktivitas humaniora lainnya adalah kami ikut turun ke jalan alias demo, termasuk gaya hidup menggelandang di Malioboro di waktu malam.



Tibalah saat harus berakhir dalam wisuda sarjana. Dengan ujian skripsi yang direvisi dewan penguji, saya dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, tidak cumlaude, maklum aja kalah bersaing secara sehat: inteligensi, motivasi, figthing spirit, dan dana. Toga sarjana sewa di rektorat toh hanya sekali pakai. Ijazah dan Akta IV diterimakan untuk bekal kerja. Selamat tinggal kampus pendidikanku (IKIP) sekarang universitas. Saya tinggalkan kota kelahiran, sebuah kampung di pinggir sungai Winongo, saya tinggalkan kenangan hidup bersama tetangga, teman bermain, teman sekolahku dulu dan kisah remaja masa lalu. Restu ortu di rumah mengantar kepergianku ke medan kerja Pulau Bangka, jadi guru muda di sebuah sekolah swasta.
(Bersambung)

Rabu, 06 Agustus 2008

Pemerolehan Bahasa Indonesia Dasar

Sejak anak tumbuh dalam keluarga, peran ibu sangat besar dalam pendasaran penguasaan bahasa anak. Itu berarti pengajar dan pendidik pertama anak belajar berkomunikasi lewat bahasa verbal dan nonverbal adalah figur ibu, selanjunya disebut bahasa Ibu. Daerah dengan latar budaya tradisi yang dimiliki oleh ibu akan melekat pada tradisi lisan dan tindakan berbahasa anak.



Pada pola modern perkotaan, perantara bahasa itu diserahkan kepada pengasuh di rumah (nenek, pengasuh bayi/anak, atau pembantu rumah tangga). Suasana kedekatan emosional dipindahkan kepada pihak lain yang diberikan tanggung jawab untuk mengasuh anak selama ibu memiliki kesibukan kerja lain. Celakanya kalau sang ibu tak punya waktu lagi mengasuh anak atau anak yang tak dikehendaki kehadirannya dengan alasan apapun.



Yang saya amati, ada anak yang dengan cepat menangkap tanda/simbol bahasa lengkap dengan cara/teknik mengucapkan tanda/simbol secara jelas. Jika ada hambatan pun lebih pada menemukan bentuk yang sejalan dengan konsep pemikiran maksudnya yang sebetulnya belum ia ketahui (belum dikenali). Di pihak lain, ada anak yang lambat mengenali tanda/simbol bahasa, ditambah hambatan organ penghasil suara yang cacat bahasa. Di antaranya, bibir sumbing, cedal/gagu, susunan gigi, dan posisi lidah. Apalagi kalau tradisi budaya setempat berkaitan dengan sistem komunikasi melalui bahasa verbal dan bahasa tubuh(sopan santun, tingkatan sosial) masih terpelihara sangat kuat. Faktor media komunikasi yang dimiliki keluarga di rumah juga punya pengaruh dalam pemerolehan konsep bahasa anak terutama tv, radio, tape, film.



Akibatnya, bahasa anak hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berada langsung di sekitar lingkungan keluarga dekat. Di luar lingkungan mereka, bahasa anak sulit dipahami. Contohnya, pengucapan fonem r cenderung sama dengan fonem l seperti pada kata besar diucapkan besal. Yang lebih aneh kalau kata pergi diucapkan pegi atau pigi tanpa mendapatkan koreksi yang benar. Alasan klasik yang dipertahankan adalah bahwa yang utama bahasa berfungsi alat komunikasi, asal sudah dapat dipahami lawan bicara bereslah itu.



Ketika anak mulai bermain dengan lingkungan sebayanya di luar rumah, terjadi pergeseran pemerolehan dasar bahasa karena konsep awal di lingkungan rumah harus dikomunikasikan dengan pihak lain di luar yang belum tentu sama kondisinya. Justru pemerolehan bahasa dari luar sering cenderung lebih cepat diterima anak. (Belum selesai konsep saya... )

Kamis, 17 Juli 2008

KATA PENGANTAR




Komunikasi dengan bahasa nasional sekaligus bahasa resmi negara selalu diwarnai dengan keberagaman motivasi, latar, lingkungan, dan perkembangan iptek. Akibatnya dapat kita jumpai penggunaan bahasa Indonesia yang sangat beragam pula.




Pendidikan formal menghendaki pemetaan pengguna sekaligus penggunaan bahasa Indonesia secara berjenjang sejak pemerolehan dasar hingga pengembangan lanjut. Oleh karena itu, kita yang memiliki tanggung jawab sekaligus pemerhati kritis pembelajaran bahasa Indonesia perlu mengembangkan kerangka berpikir dan metode pembelajaran baik bagi anak didik maupun bagi pendidik. Pihak -pihak lain yang punya perhatian pada bahasa Indonesia secara konstruktif boleh memberikan sumbang sarannya.




Semoga forum ini ditanggapi dan kita gunakan sebagaimana mestinya. Amin