Rabu, 06 Agustus 2008

Pemerolehan Bahasa Indonesia Dasar

Sejak anak tumbuh dalam keluarga, peran ibu sangat besar dalam pendasaran penguasaan bahasa anak. Itu berarti pengajar dan pendidik pertama anak belajar berkomunikasi lewat bahasa verbal dan nonverbal adalah figur ibu, selanjunya disebut bahasa Ibu. Daerah dengan latar budaya tradisi yang dimiliki oleh ibu akan melekat pada tradisi lisan dan tindakan berbahasa anak.



Pada pola modern perkotaan, perantara bahasa itu diserahkan kepada pengasuh di rumah (nenek, pengasuh bayi/anak, atau pembantu rumah tangga). Suasana kedekatan emosional dipindahkan kepada pihak lain yang diberikan tanggung jawab untuk mengasuh anak selama ibu memiliki kesibukan kerja lain. Celakanya kalau sang ibu tak punya waktu lagi mengasuh anak atau anak yang tak dikehendaki kehadirannya dengan alasan apapun.



Yang saya amati, ada anak yang dengan cepat menangkap tanda/simbol bahasa lengkap dengan cara/teknik mengucapkan tanda/simbol secara jelas. Jika ada hambatan pun lebih pada menemukan bentuk yang sejalan dengan konsep pemikiran maksudnya yang sebetulnya belum ia ketahui (belum dikenali). Di pihak lain, ada anak yang lambat mengenali tanda/simbol bahasa, ditambah hambatan organ penghasil suara yang cacat bahasa. Di antaranya, bibir sumbing, cedal/gagu, susunan gigi, dan posisi lidah. Apalagi kalau tradisi budaya setempat berkaitan dengan sistem komunikasi melalui bahasa verbal dan bahasa tubuh(sopan santun, tingkatan sosial) masih terpelihara sangat kuat. Faktor media komunikasi yang dimiliki keluarga di rumah juga punya pengaruh dalam pemerolehan konsep bahasa anak terutama tv, radio, tape, film.



Akibatnya, bahasa anak hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berada langsung di sekitar lingkungan keluarga dekat. Di luar lingkungan mereka, bahasa anak sulit dipahami. Contohnya, pengucapan fonem r cenderung sama dengan fonem l seperti pada kata besar diucapkan besal. Yang lebih aneh kalau kata pergi diucapkan pegi atau pigi tanpa mendapatkan koreksi yang benar. Alasan klasik yang dipertahankan adalah bahwa yang utama bahasa berfungsi alat komunikasi, asal sudah dapat dipahami lawan bicara bereslah itu.



Ketika anak mulai bermain dengan lingkungan sebayanya di luar rumah, terjadi pergeseran pemerolehan dasar bahasa karena konsep awal di lingkungan rumah harus dikomunikasikan dengan pihak lain di luar yang belum tentu sama kondisinya. Justru pemerolehan bahasa dari luar sering cenderung lebih cepat diterima anak. (Belum selesai konsep saya... )

Tidak ada komentar: