Cerita rakyat atau Folklore merupakan kisah obrolan lisan yang berkembang dalam tradisi masyarakat secara komunal menjadi milik bersama tanpa diketahui siapa penggagas atau pencetusnya. Kehadirannya berkaitan langsung dengan interaksi manusia dengan alam sekitar, dengan pikiran-pikiran individu yang ditokohkan, pengalaman hidup sehari-hari, serta tanggapan batin manusia atas gambaran gejolak perkembangan yang sedang berlangsung atau terjadi.
Potongan-potongan kisah atau fragmen kehidupan itu kemudian diwariskan, diturunkan, dituturkan kembali turun-temurun dengan penambahan unsur cerita utuh, struktur bentuk, kandungan isi dan maksud cerita pada waktu-waktu tertentu mereka berkumpul. Dalam intensitas yang teratur dan terpelihara, cerita tersebut menemukan hakikatnya: berkisah, mendongeng, berkespresi, mendidik, ritual budaya, dan genius locus (kearifan lokal). Oleh karena itu, klasifikasi cerita selanjutnya tentu bergantung pada lokasi, tokoh masyarakatnya, tradisi yang berkembang dan terpelihara, jenis dan bentuk ceritanya, serta bahasa penuturnya.
1. Dongeng
1.1 Fabel
1.2 Legenda
1.3 Mite
1.4 Sage
2. Cerita Pelipur lara
3. Cerita Jenaka
Dalam bentuknya yang baru, cerita rakyat termasuk jenis sastra prosa yang mengandung unsur cerita secara umum terdiri dari:
a. Tema seputar kehidupan manusia
b. Cerita diwarnai peristiwa yang tidak masuk akal (pralogis)
c. Tokoh cerita dikontraskan antara yang baik dan yang buruk (hitam-putih)
d. Latar waktu terjadi pada zaman dahulu, sedangkan latar tempat dapat berupa istana, hutan guung, dan
tempat-tempat yang dikeramatkan
e. Bahasanya klise (kuno, pola bertutur masa lampau)
f. Sudut pandang yang digunakan memakai metode orang ketiga
g. Amanat berisikan ajaran moral, nasihat, tatakarama, tingkah laku masyarakat
Dalam konteks pelajaran sastra yang mencakup teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra, pemahaman cerita rakyat dapat dikategorikan pada teori sastra dan sejarah sastranya. Secara teori, cerita rakyat termasuk jenis prosa narasi yang menyampaikan cerita fiksi yang mengandung ungkapan kreatif imajinatif manusia pada zamannya.Kategori sejarah sastra karena tradisi sastra lisan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat terdahulu kepada generasi selanjutnya menjadi pola pengungkapan kearifan lokal yang terpelihara sampai sekarang.
Dengan pendekatan ilmu sastra tersebut, cerita rakyat dapat ditelaah, dikaji, diteliti secara ilmiah dari lingkup dan tingkat kesulitan yang sederhana sampai pada yang rumit dan kompleks.Telaah cerita rakyat dapat dilakukan dengan menggunakan telaah unsur intrinsik: tema, latar, penokohan, alur, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat isi ceritanya. Untuk melengkapi telaah unsur intrinsik, langkah berikutnya dilakukan telaah unsur ekstrinsik cerita rakyat tersebut: budaya masyarakat penutur yang masih memelihara cerita rakyat itu, nilai-nilai yang berkaitan dengan isi dan amanat cerita, dll.
Hasil kajian, apa pun bentuknya akan sangat bermanfaat bagi perkembangan wawasan pada generasi peminat baca selanjutnya. Jejak-jejak cerita yang nyaris punah masih dapat dilacak dan runut kembali melalui publikasi dan dokumentasi yang akan datang. Pengalaman hidup manusia dari beragam tempat dan budaya akan menjadi cermin penghayatan dan perbandingan berharga pada dunia orang hidup.
Rabu, 03 April 2013
Selasa, 05 Januari 2010
BAHASA CACI MAKI ATAWA SUMPAH SERAPAH
Dalam percakapan sehari-hari tak jarang kita mendengar atau bertemu langsung dengan kosa kata bernada keluh kesah beriba hati, menggerutu, umpatan, marah, jengkel, geregetan, khawatir, tapi juga makian, bahkan kutukan sampai hujatan. Dalam situasi nada tersebut pertimbangan nalar tak memperoleh porsi semestinya. Biasanya kosa kata itu muncul atas dorongan rasa. Nilai rasa bahasa menjadi tolok ukur seberapa 'berat' beban makna dan efek tanggap yang akan bermunculan selanjutnya.
Karakteristik kosa kata seperti ini dimiliki oleh setiap masyarakat pemakai bahasa di belahan bumi manapun, mulai dari kosa kata simbolik, pepatah, istilah ilmiah, sampai pada kata lugas yang 'telanjang' untuk dipahami lawan bicara tanpa malu-malu lagi sebagai ekspresi angkara. Sifat manusia yang berbudi luhur direduksi dengan luapan getaran emosi insidental kesehariannya. Suasana di luar kebahasaan justru mendominasi motif pemilihan kata pemakainya, karena greget dan efeknya yang manjur.
Beberapa bahasa yang terpelihara memang merumuskan tatakrama(etika), tingkatan dalam berbahasa: sebaya, lebih tua, menghormat, halus, kasar dalam ukuran wajar. Tapi perkembangan zaman yang serba cepat tidak dibarengi dengan 'peradaban' bahasa pemakai dalam berbagai latar pergaulan. Unit terkecil masyarakat adalah keluarga, repotnya tidak banyak keluarga yang memelihara tatakrama berbahasa di lingkup rumah tinggal mereka.
Pergaulan antarwarga menemukan keberagaman tipikal bahasa cakapan yang sangat terbuka terhadap modernitas gaya hidup. Muncullah bahasa gaul yang dianggap kontemporer. Orang-orang yang memiliki pengalaman hidup lebih lama menjadi suku terasing dan gamang berhadapan dengan bahasa mereka yang lebih muda usia. Media massa banyak melaporkan efek perilaku masyarakat pemakai bahasa seperti ini. Mereka tidak lagi mampu membedakan batas keramahtamahan, main-main, olok-olok, ejekan, makian, sumpah serapah, hujatan, sampai kutukan dendam kesumat yang selama ini terpoles dalam pemahaman semu keseharian.
Penggunaan bahasa 'kasar' dan 'menyakiti' terbawa dalam forum yang lebih formal: rapat, sekolah, unit kerja, kampus, organisasi, partai dan aktivitas lain yang berpotensi kerja di bawah tekanan, tuntutan, target, prestise, prestasi, apalagi deadline.
Tidak peduli anak-anak, remaja, kaum muda, dewasa, sampai manula bermain kata-kata caci maki atawa sumpah serapah demi kebebasan dari belenggu emosi. Orang akan merasa terbang ke negeri jauh yang lebih punya taste seperti salah satu iklan rokok di televisi. Kosa kata seperti ini tak pernah tunduk pada kendali rasa, kecuali orang harus berlatih keras mengekangnya lebih kuat dari sekedar puasa mencaci maki. Sekali kosa kata ini keluar dari persembunyiannya, tak mudah untuk dikembalikan pada tempatnya semula. Tak mudah orang yang mendengarkannya bersedia memaafkan dengan lapang dada apalagi tulus ikhlas mau mengampuni. Ungkapan 'Tiada maaf bagimu' atau 'Dosamu tak terampuni' menjadi batas kesabaran ucapan manusia sebagai mahkluk ciptaan, dengan alasan hanya 'Sang Pencipta' yang berhak mengampuni.
Itu berarti harus menunggu hari penghakiman terakhir yang tak diketahui oleh seorang pun di belahan bumi ini termasuk para peramal, nujum, dukun, paranormal kelas expert.
Pernyataan akhir surat dahulu yang menulis HARAP MAKLUM tidak berlaku lagi pada pergaulan masyarakat kekinian. Bahasa hanya dipandang sebagai bagian kecil dari ekspresi hidup yang punya dimensi besar untuk menggapainya. Meski ajal akan menjemput kita entah di mana dan kapan. Segala caci maki atau sumpah serapah akan kita bawa menghadap sidang pengadilan terakhir tanpa raga atau dengan raga dan jiwa yang sejak semula disabdakan-Nya lewat bahasa kehidupan abadi pada perspektif ruang dan waktu yang berbeda.
Karakteristik kosa kata seperti ini dimiliki oleh setiap masyarakat pemakai bahasa di belahan bumi manapun, mulai dari kosa kata simbolik, pepatah, istilah ilmiah, sampai pada kata lugas yang 'telanjang' untuk dipahami lawan bicara tanpa malu-malu lagi sebagai ekspresi angkara. Sifat manusia yang berbudi luhur direduksi dengan luapan getaran emosi insidental kesehariannya. Suasana di luar kebahasaan justru mendominasi motif pemilihan kata pemakainya, karena greget dan efeknya yang manjur.
Beberapa bahasa yang terpelihara memang merumuskan tatakrama(etika), tingkatan dalam berbahasa: sebaya, lebih tua, menghormat, halus, kasar dalam ukuran wajar. Tapi perkembangan zaman yang serba cepat tidak dibarengi dengan 'peradaban' bahasa pemakai dalam berbagai latar pergaulan. Unit terkecil masyarakat adalah keluarga, repotnya tidak banyak keluarga yang memelihara tatakrama berbahasa di lingkup rumah tinggal mereka.
Pergaulan antarwarga menemukan keberagaman tipikal bahasa cakapan yang sangat terbuka terhadap modernitas gaya hidup. Muncullah bahasa gaul yang dianggap kontemporer. Orang-orang yang memiliki pengalaman hidup lebih lama menjadi suku terasing dan gamang berhadapan dengan bahasa mereka yang lebih muda usia. Media massa banyak melaporkan efek perilaku masyarakat pemakai bahasa seperti ini. Mereka tidak lagi mampu membedakan batas keramahtamahan, main-main, olok-olok, ejekan, makian, sumpah serapah, hujatan, sampai kutukan dendam kesumat yang selama ini terpoles dalam pemahaman semu keseharian.
Penggunaan bahasa 'kasar' dan 'menyakiti' terbawa dalam forum yang lebih formal: rapat, sekolah, unit kerja, kampus, organisasi, partai dan aktivitas lain yang berpotensi kerja di bawah tekanan, tuntutan, target, prestise, prestasi, apalagi deadline.
Tidak peduli anak-anak, remaja, kaum muda, dewasa, sampai manula bermain kata-kata caci maki atawa sumpah serapah demi kebebasan dari belenggu emosi. Orang akan merasa terbang ke negeri jauh yang lebih punya taste seperti salah satu iklan rokok di televisi. Kosa kata seperti ini tak pernah tunduk pada kendali rasa, kecuali orang harus berlatih keras mengekangnya lebih kuat dari sekedar puasa mencaci maki. Sekali kosa kata ini keluar dari persembunyiannya, tak mudah untuk dikembalikan pada tempatnya semula. Tak mudah orang yang mendengarkannya bersedia memaafkan dengan lapang dada apalagi tulus ikhlas mau mengampuni. Ungkapan 'Tiada maaf bagimu' atau 'Dosamu tak terampuni' menjadi batas kesabaran ucapan manusia sebagai mahkluk ciptaan, dengan alasan hanya 'Sang Pencipta' yang berhak mengampuni.
Itu berarti harus menunggu hari penghakiman terakhir yang tak diketahui oleh seorang pun di belahan bumi ini termasuk para peramal, nujum, dukun, paranormal kelas expert.
Pernyataan akhir surat dahulu yang menulis HARAP MAKLUM tidak berlaku lagi pada pergaulan masyarakat kekinian. Bahasa hanya dipandang sebagai bagian kecil dari ekspresi hidup yang punya dimensi besar untuk menggapainya. Meski ajal akan menjemput kita entah di mana dan kapan. Segala caci maki atau sumpah serapah akan kita bawa menghadap sidang pengadilan terakhir tanpa raga atau dengan raga dan jiwa yang sejak semula disabdakan-Nya lewat bahasa kehidupan abadi pada perspektif ruang dan waktu yang berbeda.
Kamis, 12 November 2009
KAPITA SELEKTA MATERI BAHASA INDONESIA
Jika harus disusun sebuah mata rantai bahan ajar untuk bahasa Indonesia, kiranya perlu dipilih inti pemahaman teori kebahasaan dan panduan ke arah kemahiran berbahasa yang memadai.
Berikut ini ide dasarnya.
1. Sejarah kelahiran bahasa Indonesia
2. Situasi kebahasaan di Indonesia
3. Tonggak pembakuan bahasa Indonesia
4. Upaya pemutakhiran bahasa Indonesia
5. Bahasa Indonesia sebagai ilmu bahasa dunia
6. Pemakaian bahasa Indonesia dalam hidup sehari-hari
7. Pemakaian bahasa Indonesia dalam penulisan karya tulis ilmiah
8. Pemakaian bahasa Indonesia dalam penulisan jurnalistik
9. Pemakaian bahasa Indonesia dalam penyajian lisan
10. Pemakaian bahasa Indonesia dalam khazanah seni sastra Indonesia
11. Forum diskusi silang pendapat terhadap pemahaman dan pemakaian
bahasa Indonesia
Bila masih dapat dipilah lagi kerangka dasar di atas tentu akan semakin jelas gambaran (deskripsi) umumnya yang memang perlu dipelajari secara seksama agar setiap individu yang ingin penguasaan kebahasaan dan kemahiran bahasa Indonesianya memadai. Dari sinilah bahasa Indonesia memiliki eksistensi sebagai salah satu bahasa dunia yang patut diperhitungkan oleh masyarakat belahan bumi yang lain ketika ingin berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai tempat. Begitu pula sebaliknya, kita tetap menjunjung tinggi bahasa persatuan (bdk. butir ketiga 'Sumpah Pemuda') sebagai semangat kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kita tingkatkan kesadaran membangun kembali jatidiri bangsa lewat pemodernan bahasa Indonesia yang menyeluruh.
Berikut ini ide dasarnya.
1. Sejarah kelahiran bahasa Indonesia
2. Situasi kebahasaan di Indonesia
3. Tonggak pembakuan bahasa Indonesia
4. Upaya pemutakhiran bahasa Indonesia
5. Bahasa Indonesia sebagai ilmu bahasa dunia
6. Pemakaian bahasa Indonesia dalam hidup sehari-hari
7. Pemakaian bahasa Indonesia dalam penulisan karya tulis ilmiah
8. Pemakaian bahasa Indonesia dalam penulisan jurnalistik
9. Pemakaian bahasa Indonesia dalam penyajian lisan
10. Pemakaian bahasa Indonesia dalam khazanah seni sastra Indonesia
11. Forum diskusi silang pendapat terhadap pemahaman dan pemakaian
bahasa Indonesia
Bila masih dapat dipilah lagi kerangka dasar di atas tentu akan semakin jelas gambaran (deskripsi) umumnya yang memang perlu dipelajari secara seksama agar setiap individu yang ingin penguasaan kebahasaan dan kemahiran bahasa Indonesianya memadai. Dari sinilah bahasa Indonesia memiliki eksistensi sebagai salah satu bahasa dunia yang patut diperhitungkan oleh masyarakat belahan bumi yang lain ketika ingin berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai tempat. Begitu pula sebaliknya, kita tetap menjunjung tinggi bahasa persatuan (bdk. butir ketiga 'Sumpah Pemuda') sebagai semangat kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kita tingkatkan kesadaran membangun kembali jatidiri bangsa lewat pemodernan bahasa Indonesia yang menyeluruh.
Kamis, 03 September 2009
PENGALAMAN MENGAJAR ORANG ASING
Pertengahan Agustus sampai awal September 2009 lalu, saya berkesempatan memperkenalkan bahasa Indonesia kepada tenaga volunteer Italia yang sedang tour of duty di Palembang. Saya terima kesempatan ini untuk membuktikan bahwa hak bahasa kita sejajar dengan bahasa asing lain yang mau berbagi ketrampilan berbahasa dalam komunikasi praktis.
Pengalaman kelompok mengajar di Jogya dulu saya terapkan kembali dengan format khas Italianya Valentino Rossi, si pembalap motoGP. Ringkas, padat dan aplikatif. Pasien saya ini tidak mau terjemahan Inggrisnya(walaupun litlle-litle sih Ican). Terpaksa atas kebaikan teman guru bahasa Inggris yang punya kamus Inggris-Italia-Indonesia saya pinjam kamusnya untuk menjembatani kelancaran transliterasi.
Bahan ajar: Klasifikasi kosa kata umum yang potensial produktif digunakan sehari-hari, Jenis kata menurut tatabahasa tradisionalnya Aristoteles yang ternyata ejaan kita basicnya ejaan Lingua Latina, struktur kalimat dan pola kalimat bahasa Indonesia, Jenis kalimat sederhana, Latihan sendiri, dan tanya jawab. Kesulitan pertama adalah kelancaran interaksi proses belajar-mengajar. Berikutnya persoalan penjelasan praktis bila ada miskomunikasi, open book dictionary, kamus saku, dan tertawa bingung: dubio. Asyik, menantang profesi, berjalan alami, berada dalam intensitas tinggi bernama antusias yang terukur oleh jam pertemuan seminggu dua kali 2 - 3 jam tatap muka @ 50 menit kayak kuliah aja. Habis pasiennya orang pinter, jadi harus PD bahwa bahasa Indonesia juga bisa bergaul dengan bangsa maju.
Pada akhir pertemuan, pasien saya mengajukan PR: bagaimana metode belajar mandiri menguasai/mengembangkan minat belajar bahasa Indonesia kalau nanti sudah kembali ke Italia? Garis besar jawaban sudah saya tulis seperti bahan ajar di atas, media lanjut: cari forum belajar jarak jauh via e-mail, praktik langsung bertemu orang berbahasa Indonesia.
Semoga semakin banyak orang belajar memahami bangsa lain sebagai patner lewat bahasa yang dipahami.
Pengalaman kelompok mengajar di Jogya dulu saya terapkan kembali dengan format khas Italianya Valentino Rossi, si pembalap motoGP. Ringkas, padat dan aplikatif. Pasien saya ini tidak mau terjemahan Inggrisnya(walaupun litlle-litle sih Ican). Terpaksa atas kebaikan teman guru bahasa Inggris yang punya kamus Inggris-Italia-Indonesia saya pinjam kamusnya untuk menjembatani kelancaran transliterasi.
Bahan ajar: Klasifikasi kosa kata umum yang potensial produktif digunakan sehari-hari, Jenis kata menurut tatabahasa tradisionalnya Aristoteles yang ternyata ejaan kita basicnya ejaan Lingua Latina, struktur kalimat dan pola kalimat bahasa Indonesia, Jenis kalimat sederhana, Latihan sendiri, dan tanya jawab. Kesulitan pertama adalah kelancaran interaksi proses belajar-mengajar. Berikutnya persoalan penjelasan praktis bila ada miskomunikasi, open book dictionary, kamus saku, dan tertawa bingung: dubio. Asyik, menantang profesi, berjalan alami, berada dalam intensitas tinggi bernama antusias yang terukur oleh jam pertemuan seminggu dua kali 2 - 3 jam tatap muka @ 50 menit kayak kuliah aja. Habis pasiennya orang pinter, jadi harus PD bahwa bahasa Indonesia juga bisa bergaul dengan bangsa maju.
Pada akhir pertemuan, pasien saya mengajukan PR: bagaimana metode belajar mandiri menguasai/mengembangkan minat belajar bahasa Indonesia kalau nanti sudah kembali ke Italia? Garis besar jawaban sudah saya tulis seperti bahan ajar di atas, media lanjut: cari forum belajar jarak jauh via e-mail, praktik langsung bertemu orang berbahasa Indonesia.
Semoga semakin banyak orang belajar memahami bangsa lain sebagai patner lewat bahasa yang dipahami.
Senin, 24 November 2008
PROSES MENULIS KREATIF
Selama kurikulum pengajaran di sekolah belum mantap, perencanaan dan pengembangan materi pembelajaran mengalami tarik ulur berkepanjangan. Sistem konvensional dengan buku wajib terkesan siapa pemegang jabatan departemen dan pemenang tender penerbitannya.
Pelaksana di lapangan sering dibuat kalang kabut ketika harus mengikuti petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang kadang terlambat disampaikan atau diterima di daerah. Sosialisasi kebijakan sering juga ditanggapi secara berlebihan karena perbedaan status lembaga dan tingkat kesejahteraan.
Walaupun cukup sumber daya manusia yang terdidik, kadang tidak siap menghadapi kompleksitas persoalan masyarakat pengguna jasa pendidikan yang diidealisasikan. Bakat alam tidak digali sebagai potensi awal yang dihargai semestinya. Tradisi lisan tetap harus menjadi prioritas proses awal menuju tradisi tulis yang terus-menerus dikembangkan.
Orang yang gagap aksara tulis masih punya potensi lisan yang diterima dalam lingkup keluarga dan pergaulan. Orang yang gagap informasi masih punya informasi dasar yang sangat potensial dikembangkan. Membuka cakrawala kegagapan informasi itulah kunci proses pendampingan latihan berjenjang ke arah keyakinan diri untuk tampil (performance) dalam bingkai yang lebih tertata bernama menulis kreatif: produktif dan berkualitas.
Pelaksana di lapangan sering dibuat kalang kabut ketika harus mengikuti petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang kadang terlambat disampaikan atau diterima di daerah. Sosialisasi kebijakan sering juga ditanggapi secara berlebihan karena perbedaan status lembaga dan tingkat kesejahteraan.
Walaupun cukup sumber daya manusia yang terdidik, kadang tidak siap menghadapi kompleksitas persoalan masyarakat pengguna jasa pendidikan yang diidealisasikan. Bakat alam tidak digali sebagai potensi awal yang dihargai semestinya. Tradisi lisan tetap harus menjadi prioritas proses awal menuju tradisi tulis yang terus-menerus dikembangkan.
Orang yang gagap aksara tulis masih punya potensi lisan yang diterima dalam lingkup keluarga dan pergaulan. Orang yang gagap informasi masih punya informasi dasar yang sangat potensial dikembangkan. Membuka cakrawala kegagapan informasi itulah kunci proses pendampingan latihan berjenjang ke arah keyakinan diri untuk tampil (performance) dalam bingkai yang lebih tertata bernama menulis kreatif: produktif dan berkualitas.
Selasa, 28 Oktober 2008
BUKU REFERENSI
Sejak kecil saya sudah dibiasakan oleh ortu di rumah dengan beberapa jenis teks bergambar, buku cerita, majalah (yang ini karena ditunjuk agency utk membantu distribusi ke pelanggan). Bekal itu kemudian berkembang untuk membaca dan menjadi anggota aktif beberapa perpustakaan yang ada di sekitar kotaku, Yogyakarta. Tradisi setiap pagi melihat anak sekolah bersepeda atau jalan kaki menjadi motivasi tersendiri bahwa mereka membawa buku-buku dengan atau tanpa tas. Selain kunjungan ke toko buku resmi untuk melihat display buku baru, best seller dan tentu saja cuci mata (naluri laki-laki), tak terelakkan ada kios-kios buku loak/bekas dengan harga nego yang menjadi favorit kunjungan berbagai lapisan masyarakat penggemar buku. Begitulah saya menyebutnya Wisata Buku.
Di sekolah menengah, tugas-tugas harus mencantumkan sumber buku/referensi sebagai kelengkapan penilaian ilmiah seorang guru. Jadilah kelompok belajar dengan agenda rutin tukar-pinjam buku yang dimiliki anggota. Teman-teman cewek lebih banyak dikerjai karena rata-rata ortunya lebih kaya. Motivasi membaca buku disertai kompetisi merebut simpati sesuai perkembangan usia. Gaya curhat yang malu-malu remaja terbungkus lewat selipan kertas di buku yang dipinjam saat kembali. Ada macam-macam reaksi yang diterima: terbuka, jujur, senang, tapi juga caci maki. Begitupun saya menyebutnya Cinta Buku.
Sampai di perguruan tinggi, membaca buku di ruang baca perpustakaan kampus adalah kegiatan wajib, jika tak mau ketinggalan bahan kuliah. Jaminan menjadi anggota perustakaan kampus pun harus menyerahkan ijazah asli SMA segala. Justru di situ mahasiswa yang tekun membaca berkesempatan mengeksplorasi minat bacanya pada gudang ilmu yang tersedia -- itu kalau kampus menempatkan perpustakaan sebagai pusat belajar mandiri -- Dan pada giliran semester akhir kuliah, mahasiswa diberi kesempatan langsung masuk ruang penyimpanan buku dan mengambil sendiri buku yang dicarinya. Yang berminat mencari pengalaman kerja pustakawan dipersilakan magang langsung melayani mahasiswa lain atas pengawasan koordinator tenaga pustakawan. Yang lebih seru, jika dosen tertentu mengadakan penelitian, mahasiswa diperbolehkan menjadi anggota tim peneliti. Bahkan ikut touring of duty ke sekolah-sekolah atau kepanitiaan seminar-seminar sebagai tenaga sekretariat part timer. Masa ini saya sebut Dialog Buku. Saya sangat beruntung dibesarkan dalam tradisi buku seperti itu. Meski kesejahteraan ortu termasuk pensiunan guru SD golongan terakhir IId PNS, tersendat-sendat dalam pembiayaan kuliah, pengenalan ilmu lewat buku diprioritaskan karena tak ternilai harganya. Beruntunglah saya dengan kegemaran itu mengantarkan peluang saya memperoleh beasiswa yang tidak begitu mengikat demi kelangsungan kuliah saya. Suntuk dengan keseharian tersebut, berakibat menunda pekerjaan utama skripsi. Apalagi ada sekolah yang meminta ikut mengajar di situ, bertambahlah uang saku saya untuk beli buku. Saya tidak sadar bahwa takkan pernah cukup uang untuk selalu beli buku karena hampir tiap hari ada buku baru. Bedanya dengan mahasiswa Kutu Buku yang jarang kelihatan aktivitas humaniora lainnya adalah kami ikut turun ke jalan alias demo, termasuk gaya hidup menggelandang di Malioboro di waktu malam.
Tibalah saat harus berakhir dalam wisuda sarjana. Dengan ujian skripsi yang direvisi dewan penguji, saya dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, tidak cumlaude, maklum aja kalah bersaing secara sehat: inteligensi, motivasi, figthing spirit, dan dana. Toga sarjana sewa di rektorat toh hanya sekali pakai. Ijazah dan Akta IV diterimakan untuk bekal kerja. Selamat tinggal kampus pendidikanku (IKIP) sekarang universitas. Saya tinggalkan kota kelahiran, sebuah kampung di pinggir sungai Winongo, saya tinggalkan kenangan hidup bersama tetangga, teman bermain, teman sekolahku dulu dan kisah remaja masa lalu. Restu ortu di rumah mengantar kepergianku ke medan kerja Pulau Bangka, jadi guru muda di sebuah sekolah swasta.
(Bersambung)
Di sekolah menengah, tugas-tugas harus mencantumkan sumber buku/referensi sebagai kelengkapan penilaian ilmiah seorang guru. Jadilah kelompok belajar dengan agenda rutin tukar-pinjam buku yang dimiliki anggota. Teman-teman cewek lebih banyak dikerjai karena rata-rata ortunya lebih kaya. Motivasi membaca buku disertai kompetisi merebut simpati sesuai perkembangan usia. Gaya curhat yang malu-malu remaja terbungkus lewat selipan kertas di buku yang dipinjam saat kembali. Ada macam-macam reaksi yang diterima: terbuka, jujur, senang, tapi juga caci maki. Begitupun saya menyebutnya Cinta Buku.
Sampai di perguruan tinggi, membaca buku di ruang baca perpustakaan kampus adalah kegiatan wajib, jika tak mau ketinggalan bahan kuliah. Jaminan menjadi anggota perustakaan kampus pun harus menyerahkan ijazah asli SMA segala. Justru di situ mahasiswa yang tekun membaca berkesempatan mengeksplorasi minat bacanya pada gudang ilmu yang tersedia -- itu kalau kampus menempatkan perpustakaan sebagai pusat belajar mandiri -- Dan pada giliran semester akhir kuliah, mahasiswa diberi kesempatan langsung masuk ruang penyimpanan buku dan mengambil sendiri buku yang dicarinya. Yang berminat mencari pengalaman kerja pustakawan dipersilakan magang langsung melayani mahasiswa lain atas pengawasan koordinator tenaga pustakawan. Yang lebih seru, jika dosen tertentu mengadakan penelitian, mahasiswa diperbolehkan menjadi anggota tim peneliti. Bahkan ikut touring of duty ke sekolah-sekolah atau kepanitiaan seminar-seminar sebagai tenaga sekretariat part timer. Masa ini saya sebut Dialog Buku. Saya sangat beruntung dibesarkan dalam tradisi buku seperti itu. Meski kesejahteraan ortu termasuk pensiunan guru SD golongan terakhir IId PNS, tersendat-sendat dalam pembiayaan kuliah, pengenalan ilmu lewat buku diprioritaskan karena tak ternilai harganya. Beruntunglah saya dengan kegemaran itu mengantarkan peluang saya memperoleh beasiswa yang tidak begitu mengikat demi kelangsungan kuliah saya. Suntuk dengan keseharian tersebut, berakibat menunda pekerjaan utama skripsi. Apalagi ada sekolah yang meminta ikut mengajar di situ, bertambahlah uang saku saya untuk beli buku. Saya tidak sadar bahwa takkan pernah cukup uang untuk selalu beli buku karena hampir tiap hari ada buku baru. Bedanya dengan mahasiswa Kutu Buku yang jarang kelihatan aktivitas humaniora lainnya adalah kami ikut turun ke jalan alias demo, termasuk gaya hidup menggelandang di Malioboro di waktu malam.
Tibalah saat harus berakhir dalam wisuda sarjana. Dengan ujian skripsi yang direvisi dewan penguji, saya dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, tidak cumlaude, maklum aja kalah bersaing secara sehat: inteligensi, motivasi, figthing spirit, dan dana. Toga sarjana sewa di rektorat toh hanya sekali pakai. Ijazah dan Akta IV diterimakan untuk bekal kerja. Selamat tinggal kampus pendidikanku (IKIP) sekarang universitas. Saya tinggalkan kota kelahiran, sebuah kampung di pinggir sungai Winongo, saya tinggalkan kenangan hidup bersama tetangga, teman bermain, teman sekolahku dulu dan kisah remaja masa lalu. Restu ortu di rumah mengantar kepergianku ke medan kerja Pulau Bangka, jadi guru muda di sebuah sekolah swasta.
(Bersambung)
Rabu, 06 Agustus 2008
Pemerolehan Bahasa Indonesia Dasar
Sejak anak tumbuh dalam keluarga, peran ibu sangat besar dalam pendasaran penguasaan bahasa anak. Itu berarti pengajar dan pendidik pertama anak belajar berkomunikasi lewat bahasa verbal dan nonverbal adalah figur ibu, selanjunya disebut bahasa Ibu. Daerah dengan latar budaya tradisi yang dimiliki oleh ibu akan melekat pada tradisi lisan dan tindakan berbahasa anak.
Pada pola modern perkotaan, perantara bahasa itu diserahkan kepada pengasuh di rumah (nenek, pengasuh bayi/anak, atau pembantu rumah tangga). Suasana kedekatan emosional dipindahkan kepada pihak lain yang diberikan tanggung jawab untuk mengasuh anak selama ibu memiliki kesibukan kerja lain. Celakanya kalau sang ibu tak punya waktu lagi mengasuh anak atau anak yang tak dikehendaki kehadirannya dengan alasan apapun.
Yang saya amati, ada anak yang dengan cepat menangkap tanda/simbol bahasa lengkap dengan cara/teknik mengucapkan tanda/simbol secara jelas. Jika ada hambatan pun lebih pada menemukan bentuk yang sejalan dengan konsep pemikiran maksudnya yang sebetulnya belum ia ketahui (belum dikenali). Di pihak lain, ada anak yang lambat mengenali tanda/simbol bahasa, ditambah hambatan organ penghasil suara yang cacat bahasa. Di antaranya, bibir sumbing, cedal/gagu, susunan gigi, dan posisi lidah. Apalagi kalau tradisi budaya setempat berkaitan dengan sistem komunikasi melalui bahasa verbal dan bahasa tubuh(sopan santun, tingkatan sosial) masih terpelihara sangat kuat. Faktor media komunikasi yang dimiliki keluarga di rumah juga punya pengaruh dalam pemerolehan konsep bahasa anak terutama tv, radio, tape, film.
Akibatnya, bahasa anak hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berada langsung di sekitar lingkungan keluarga dekat. Di luar lingkungan mereka, bahasa anak sulit dipahami. Contohnya, pengucapan fonem r cenderung sama dengan fonem l seperti pada kata besar diucapkan besal. Yang lebih aneh kalau kata pergi diucapkan pegi atau pigi tanpa mendapatkan koreksi yang benar. Alasan klasik yang dipertahankan adalah bahwa yang utama bahasa berfungsi alat komunikasi, asal sudah dapat dipahami lawan bicara bereslah itu.
Ketika anak mulai bermain dengan lingkungan sebayanya di luar rumah, terjadi pergeseran pemerolehan dasar bahasa karena konsep awal di lingkungan rumah harus dikomunikasikan dengan pihak lain di luar yang belum tentu sama kondisinya. Justru pemerolehan bahasa dari luar sering cenderung lebih cepat diterima anak. (Belum selesai konsep saya... )
Pada pola modern perkotaan, perantara bahasa itu diserahkan kepada pengasuh di rumah (nenek, pengasuh bayi/anak, atau pembantu rumah tangga). Suasana kedekatan emosional dipindahkan kepada pihak lain yang diberikan tanggung jawab untuk mengasuh anak selama ibu memiliki kesibukan kerja lain. Celakanya kalau sang ibu tak punya waktu lagi mengasuh anak atau anak yang tak dikehendaki kehadirannya dengan alasan apapun.
Yang saya amati, ada anak yang dengan cepat menangkap tanda/simbol bahasa lengkap dengan cara/teknik mengucapkan tanda/simbol secara jelas. Jika ada hambatan pun lebih pada menemukan bentuk yang sejalan dengan konsep pemikiran maksudnya yang sebetulnya belum ia ketahui (belum dikenali). Di pihak lain, ada anak yang lambat mengenali tanda/simbol bahasa, ditambah hambatan organ penghasil suara yang cacat bahasa. Di antaranya, bibir sumbing, cedal/gagu, susunan gigi, dan posisi lidah. Apalagi kalau tradisi budaya setempat berkaitan dengan sistem komunikasi melalui bahasa verbal dan bahasa tubuh(sopan santun, tingkatan sosial) masih terpelihara sangat kuat. Faktor media komunikasi yang dimiliki keluarga di rumah juga punya pengaruh dalam pemerolehan konsep bahasa anak terutama tv, radio, tape, film.
Akibatnya, bahasa anak hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berada langsung di sekitar lingkungan keluarga dekat. Di luar lingkungan mereka, bahasa anak sulit dipahami. Contohnya, pengucapan fonem r cenderung sama dengan fonem l seperti pada kata besar diucapkan besal. Yang lebih aneh kalau kata pergi diucapkan pegi atau pigi tanpa mendapatkan koreksi yang benar. Alasan klasik yang dipertahankan adalah bahwa yang utama bahasa berfungsi alat komunikasi, asal sudah dapat dipahami lawan bicara bereslah itu.
Ketika anak mulai bermain dengan lingkungan sebayanya di luar rumah, terjadi pergeseran pemerolehan dasar bahasa karena konsep awal di lingkungan rumah harus dikomunikasikan dengan pihak lain di luar yang belum tentu sama kondisinya. Justru pemerolehan bahasa dari luar sering cenderung lebih cepat diterima anak. (Belum selesai konsep saya... )
Langganan:
Komentar (Atom)
