Dalam percakapan sehari-hari tak jarang kita mendengar atau bertemu langsung dengan kosa kata bernada keluh kesah beriba hati, menggerutu, umpatan, marah, jengkel, geregetan, khawatir, tapi juga makian, bahkan kutukan sampai hujatan. Dalam situasi nada tersebut pertimbangan nalar tak memperoleh porsi semestinya. Biasanya kosa kata itu muncul atas dorongan rasa. Nilai rasa bahasa menjadi tolok ukur seberapa 'berat' beban makna dan efek tanggap yang akan bermunculan selanjutnya.
Karakteristik kosa kata seperti ini dimiliki oleh setiap masyarakat pemakai bahasa di belahan bumi manapun, mulai dari kosa kata simbolik, pepatah, istilah ilmiah, sampai pada kata lugas yang 'telanjang' untuk dipahami lawan bicara tanpa malu-malu lagi sebagai ekspresi angkara. Sifat manusia yang berbudi luhur direduksi dengan luapan getaran emosi insidental kesehariannya. Suasana di luar kebahasaan justru mendominasi motif pemilihan kata pemakainya, karena greget dan efeknya yang manjur.
Beberapa bahasa yang terpelihara memang merumuskan tatakrama(etika), tingkatan dalam berbahasa: sebaya, lebih tua, menghormat, halus, kasar dalam ukuran wajar. Tapi perkembangan zaman yang serba cepat tidak dibarengi dengan 'peradaban' bahasa pemakai dalam berbagai latar pergaulan. Unit terkecil masyarakat adalah keluarga, repotnya tidak banyak keluarga yang memelihara tatakrama berbahasa di lingkup rumah tinggal mereka.
Pergaulan antarwarga menemukan keberagaman tipikal bahasa cakapan yang sangat terbuka terhadap modernitas gaya hidup. Muncullah bahasa gaul yang dianggap kontemporer. Orang-orang yang memiliki pengalaman hidup lebih lama menjadi suku terasing dan gamang berhadapan dengan bahasa mereka yang lebih muda usia. Media massa banyak melaporkan efek perilaku masyarakat pemakai bahasa seperti ini. Mereka tidak lagi mampu membedakan batas keramahtamahan, main-main, olok-olok, ejekan, makian, sumpah serapah, hujatan, sampai kutukan dendam kesumat yang selama ini terpoles dalam pemahaman semu keseharian.
Penggunaan bahasa 'kasar' dan 'menyakiti' terbawa dalam forum yang lebih formal: rapat, sekolah, unit kerja, kampus, organisasi, partai dan aktivitas lain yang berpotensi kerja di bawah tekanan, tuntutan, target, prestise, prestasi, apalagi deadline.
Tidak peduli anak-anak, remaja, kaum muda, dewasa, sampai manula bermain kata-kata caci maki atawa sumpah serapah demi kebebasan dari belenggu emosi. Orang akan merasa terbang ke negeri jauh yang lebih punya taste seperti salah satu iklan rokok di televisi. Kosa kata seperti ini tak pernah tunduk pada kendali rasa, kecuali orang harus berlatih keras mengekangnya lebih kuat dari sekedar puasa mencaci maki. Sekali kosa kata ini keluar dari persembunyiannya, tak mudah untuk dikembalikan pada tempatnya semula. Tak mudah orang yang mendengarkannya bersedia memaafkan dengan lapang dada apalagi tulus ikhlas mau mengampuni. Ungkapan 'Tiada maaf bagimu' atau 'Dosamu tak terampuni' menjadi batas kesabaran ucapan manusia sebagai mahkluk ciptaan, dengan alasan hanya 'Sang Pencipta' yang berhak mengampuni.
Itu berarti harus menunggu hari penghakiman terakhir yang tak diketahui oleh seorang pun di belahan bumi ini termasuk para peramal, nujum, dukun, paranormal kelas expert.
Pernyataan akhir surat dahulu yang menulis HARAP MAKLUM tidak berlaku lagi pada pergaulan masyarakat kekinian. Bahasa hanya dipandang sebagai bagian kecil dari ekspresi hidup yang punya dimensi besar untuk menggapainya. Meski ajal akan menjemput kita entah di mana dan kapan. Segala caci maki atau sumpah serapah akan kita bawa menghadap sidang pengadilan terakhir tanpa raga atau dengan raga dan jiwa yang sejak semula disabdakan-Nya lewat bahasa kehidupan abadi pada perspektif ruang dan waktu yang berbeda.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar